1.
Deasidifikasi □
Deasidifikasi dilakukan umunya pada kertas
yang sudah tua, karena pengaruh dari faktor kimia. Kertas lama memiliki
rata-rata memiliki PH 4-5, artinya kondisi keasaman kertas sudah parah. PH
kertas minimal adalah 7,5. Jika dibawah PH minimal, maka kondisi kertas sangat
asam. Untuk mengetahui derajat keasaman kertas, satu titik pada permukaan
kertas dibasahi dengan air suling, kemudian pH-nya diukur dengan pH meter atau
kertas pH dilakukan dengan menggunakan kalsium karbonat.
a.
Alat dan Bahan □
·
Bak air
·
Calcium Carbonate (CaCO3)
·
pH meter atau kertas indikator pH
·
Aquades
·
Kain Kassa
·
Rak pengering
b.
Proses deasidifikasi □
1. Ujilah kadar asam pada kertas yang menjadi objek
menggunakan kertas indikator pH. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
keasaman suatu obyek. Jika ternyata tingkat keasaman obyek tidak normal maka
proses deasidifikasi dilanjutkan.
2. Selanjutnya tuangkan aquades pada bak air sebanyak 10
liter. Masukkan calcium carbonate (CaCO3) pada air sebanyak 10 gram, aduk
hingga rata. Letakkan kertas pada bak tersebut. Tetapi tidak semua kertas dapat
direndam, karena beberapa kertas yang ditulis dengan tinta tertentu akan luntur
jika dilakukan deasidifikasi dengan cara direndam. Deasidifikasi kertas dengan
kondisi seperti ini dilakukan dengan jalan menyemprotkan permukaan kertas
dengan larutan barium hidroksida dalam methyl alcohol. Untuk keperluan ini,
ditimbang 19 gram Ba (OH)2, 8H2O, kemudian dilarutkan dalam 1 liter alcohol.
Tahapan ini dilakukan selama ±20 menit.
3. Berilah sekat antar kertas menggunakan kain kassa,
agar tidak saling berhimpit langsung. Dan keutuhan kertas masih tetap terjaga.
4. Kemudian angkat dan tiriskan bahan pustaka dan arsip
yang telah selesai di rendam pad arak-rak yang telah disediakan. Agar cepat
kering, maka rak bisa diletakkan di dekat AC atau diangin-aginkan. Tetapi dalam
proses pengeringan ini bahan pustaka dan arsip tidak boleh terkena cahaya
matahari dan angina secara langsung. Jadi, jika ingin mengeringkan bahan
pustaka dan arsip yang telah selesai dilakukan deasidifikasi menggunakan kipas
angina, maka arah kipas angin harus dihadapkan belawanan dengan letak bahan
pustaka atau dipantulkan kea rah tembok.
5. Setelah seluruh bahan pustaka dan arsip kering maka
dapat dilakukan penyusunan seperti semula. Selain itu bahan pustaka dan arsip
bisa kembali untuk disimpan pada tempatnya.
c.
Proses deasidifikasi dengan penyemprotan □
Cara penyemprotan dilakukan pada naskah lama
berwarna seperti peta atau gambar. Dikhawatirkan dengan perendaman warna pada
naskah akan luntur.
·
Peta atau naskah ditata di atas meja,
kemudian permukaannya disemprot dengan bookepper
deasidification.
·
Semprot seluruh permukaan naskah lalu
dikeringkan pada rak pegering.
2.
Laminasi □
Laminasi adalah proses melapisi selembar
kertas dengan du buah bahan penguat. Laminasi dilakukan untuk naskah yang sudah
rapuh atau sobek.
a.
Laminasi dengan Tissue Paper ( Japanese
Paper) □
Bahan □
·
Kertas Tissue (Japanese Paper)
·
Tepung kanji
·
Methyl Cellulose / CMC
·
Aquades
Alat-alat □
·
Neraca analitik
·
Blender
·
Kocokan Roti
·
Mangkok besar
·
Rakhel
·
Meja kaca berlampu
·
Kain kasa
·
Lembaran mika untuk dasar laminasi
·
Gunting
·
Pemotong kertas
Proses laminasi dengan kertas tissue □
·
Campur bahan starch dengan air panas dan air
Aquades dengan perbandingan 3,75 gram CMC, 20 ml air panas, 80 ml aquades.
·
Campur CMC dengan aquades dengan perbandingn
7,5 gram CMC dengan 100ml aquades, aduk dengan menggunakan kocokan roti hingga
tercampur.
·
Kemudian kedua bahan tersebut campur dengan
menggunakan blender, apabila terlalu kental dapat ditambahkan air panas, dan
tuang kedalam mangkuk besar.
·
Siapkan bahan pustaka atau arsip yang akan
dilaminasi dan telah dihilangkan asamnya
di atas lembaran mika di meja kaca, kemudian di atas arsip dilapisi kertas
tissue ( Japanese Paper). Di atas kertas tissue dilapisi kain kassa yang bertujuan
agar kertas tissue dan bahan pustaka atau arsip tidak rusak sewaktu dilapisi
dengan bubur lem.
·
Kemudian dilapisi bubur lem dengan
menggunakan rakhel. Usapkan searah dari tengah ke pinggir dan seterusnya secara
merata.
·
Setelah itu kain kassa diangkat dan bahan
pustaka atau arsip dibiarkan hingga kering, kemudian dilakukan proses yang sama
untuk halaman sebaliknya.
·
Setelah kering bagian tepi dapat dirapikan
dengan bahan pembatas seperti kertas minyak dengan bahan lem tersebut. Untuk
arsip peta dapat digunakan kertas conqueror.
b.
Laminasi dengan Lamatec □
Bahan
□
·
Kain Lamatec
Alat-alat □
·
Gunting
·
Penggaris
·
Alat pres, pemanas, atau setrika
·
Meja kaca berlampu
Proses laminasi dengan Lamatec □
·
Bahan pustaka atau arasip yang akan
dilaminasi diletakkan di atas kain Lamatec yang ukurannya lebih besar (kurang
lebih 3cm sisi pinggir arsip atau peta)
·
Kemudian permukaan bahan pustaka atau arsip
dipanasi dengan setrika hingga kain lamatec menempel pada bahan pustaka atau
arsip.
·
Lipat ke dalam setiap tepi kain Lamatec
hingga menjepit arsip, dan disetrika secara merata.
·
Gosok juga lembaran sebaliknya
·
Apabila ada alat pres panas, dapat dilakukan
selama 15 menit.
3.
Enkapsulasi □
Merupakan salah satu cara perbaikan arsip dengan menggunakan bahan
pelindung untuk menghindari kerusakan yang bersifat fisik. Bahan pustaka dan
arsip yang akan melalui proses ini berbentuk peta, poster, yang mengalami
kerusakan berupa lubang kecil. Kerusakan kecil pada bagian pinggir dan biasanya
bahan pustaka yang kertasnya agak tebal
Bahan □
·
Plastik Polyester / IBM
·
Cellotape 3M (double side 3M Scotch Brand No.
145)
Alat □
·
Gunting
·
Cutter
·
Penggaris logam (Shealer)
·
Pemberat
·
Meja kaca
·
Mesin Sealer
Proses enkapsulasi I □
·
Letakkan plastik polyester di atas kaca dan
dibersihkan dengan kainlap halus
·
Letakkan bahan pustaka atau arsip yang akan
di-enkapsulasi di atas plastik polyester, dan di atas bahan pustaka atau arsip diletakkan pemberat
agar tidak bergeser
·
Potong 2 lembar plastik polyester kira-kira
2,5 cm lebih panjang dan lebih lebar dari bahan pustaka atau arsip
·
Beri strip double side tape kira-kira 3 mm
dari bagian pinggir arsipdan beri celah kecil pada pinggir arsip setiap sudut
(untuk sirkulasi udara)
·
Kemudian letakkan plastik polyester di atas
arsip lalu beri pemberat
·
Lepaskan lapisan kertas pada tape
·
Potong plastik polyester hingga rapi
kira-kira 3 mm dari pinggir bagian luar tape.
Proses enkapsulasi II □
·
Letakkan bahan pustaka atau arsip diantara 2
(dua) lembar plastik polyester.
·
Pres dengan mesinpemanas (sealer) pada tepian
plastik, dengan jarang kurang lebih 5 mm dari tepian arsip.
·
Potong plastik polyester hingga rapi
kira-kira 3 mm dari pinggir bagian luar plastik yang telah dipanasi.
4.
Penjilidan □
Penjilidan adalah menghimpun atau menggabungkan lembar lepas menjadi satu,
yang dilindungi oleh ban dan sampul.
Bahan □
·
Kertas karton tebal
·
Kertas karton tipis
·
Kain linen
·
Kertas sampul
·
Kain kasa
·
Pita kapital (pita punggung)
·
Pita pembatas
·
Lem weber
Alat – alat □
·
Gunting
·
Cutter
·
Penggaris logam
·
Kain lap
·
Alat pres buku / pemberat
·
Kuas
Cara penjilidan □
·
Buku yang akan diperbaiki dibersihkan dari
debu dan kotoran dengan kuas dan dibersihkan dari jilidan lama
·
Apabila terdapat jahitan yang rusak dijahit
kembali. Ada beberapa jenis teknik menjahit jilidan.
·
Berikan lem pada punggung buku hingga rata,
kemudian tiap tepian buku diberi pita kapital sesuai ketebalan buku
·
Pasang pita pembatas
·
Setelah lem rata, punggung dilapisi kain
kassa sebagai penguat, biarkan hingga kering
·
Sementara menunggu lem kering, sampul jilidan
dibuat dengan menyiapakan kertas karton tebal yang dipotong 3 mm lebih panjang
dari lebar buku.
·
Untuk bagian punggung buku potong kertas
karton tebal yang berukuran panjang sama dengan sampuldan tebal sama dengan
tebal buku.
·
Untuk buku yang tipis bisa menggunakan kertas
karton tipis.
·
Kemudian kertas karton, sampul dan punggung
disatukan dengan kertas sampul sebagai essel.
·
Setelah itu sampul dilapisi dengan kain linen
dan dikeringkan
·
Setelah lem sampul dan buku kering, kemudian
disatukan dengan kertas sampul dan di pres hingga kering.
·
Pemberian judul buku yang dapat dilakukan
dengan menempelkan kertas stiker yang telah diberi judul atau dengan cara di
sablon.
Selain metode penjilidan yang sudah dipraktekkan di atas, ada beberapa
jenis teknik penjilidan lainnya :
a.
Jilid Kaye, merupakan jilidan yang paling
sederhana, biasa digunakan untuk menjilid bahan pustaka dengan jumlah halaman
sedikit, misalnya majalah.
b.
Jilidan dengan menggunakan tanda atau signature bindin, cara ini dilakukan untuk dokumen dengan jumlah
halaman banyak
c.
Jilidan lem punggung, dokumen dikumpulkan
digabung dengan penjepit bagian punggung atas, kemudian diber lem dan
dibubuhkan halaman pelindung, lalu dipasang sampul. Agar lem yang menempel bisa
kuat, punggung buku harus digergaji untuk membuat pori-pori besar sehingga
banyak lem yang masuk ke sela-sela halaman. Kelemahan cara penjilidan ini
adalah buku tidak bisa dibuka rata. Penjilidan dengan cara biasanya digunakan
untuk buku jenis novel dan bahan ajar.
d.
Jilid spiral, jilid spiral menggunakan mesin
pelubang kertas, dengan cara kertas diratakan ke sebelah kiri, diberi lubang
lalu digabungkan dan dimasukkan spiralnya.
e.
Jilid lak ban, caranya kertas disusun rapi,
kemudian disteples pada tiga tempat dan ditutup dengan lak ban. Jilidan ini
biasa digunakan untuk makalah dan diktat.
5.
Pembuatan Frudal □
Frudal adalah selubung buku untuk melindungi buku atau arsip dalam buku
terhadap kerusakan.
Bahan □
·
Kertas karton
·
Kain linen
·
Lem weber
Alat-alat □
·
Gunting
·
Cutter
·
Kuas
·
Penggaris logam
·
Meja
kaca
Proses membuat frudal □
·
Ukurlah kertas karton tebal dengan ukuran
lebih besar daripada tebal dan panjang buku agar buku dapat masuk
·
Garis lipat kertas karton dengan memotong
setengah dari tebal karton guna pelipatan karton
·
Lipat karton sesuai dengan garis-garis
lipatan hingga membentuk kotak
·
Bagian luar dilapisi dengan kain linen
6.
Pembuatan Portepel □
Portepel adalah map untuk menyimpan dokumen dalam bentuk lembaran lepas
atau bahan pustaka yang rusak parah ditempelkan dalam portepel sebagai
pelindung kerusakan lebih lanjut.
Bahan □
·
Kertas karton tebal
·
Kertas sampul
·
Kain linen
·
Tali kain
Alat-alat □
·
Gunting
·
Cutter
·
Penggaris logam
·
Kuas
Proses pembuatan portepel □
·
Sama dengan pembuatan sampul buku dengan
diberi tambahan lebar dan ketinggian 2 – 3 cm dari bahan arsip
·
Lapisi bagian luar dengan kain linen dan di
lem
·
Bagian dalam dilapisi dengan kertas sampul
·
Buat dua lubang di bagian tepi portepel
·
Beri tali kain sebagai pengikat
7.
Digitalisasi □
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, kemudahan dalam pelayanan
arsip dapat dilakukan dengan sistem elektronik. Arsip tekstual dialihmediakan
dalam bentuk elektronik, yaitu dengan cara scanning. Bahan pustaka dan arsip
dialihmediakan dengan alat scan, diinput ke komputer. Kegiatan ini dilakukan
bagi arsip dan bahan pustaka yang frekuensi penggunaannya tinggi, sehingga jika
pengguna ingin mencari informasi tidak langsung ke arsip aslinya, maka
kerusakan dapat dicegah.
No comments:
Post a Comment